smpmtsmusby.com – Pelajar memegang peran strategis dalam menggerakkan perubahan sosial dan membangun masa depan bangsa. Peringatan Hari Pelajar Internasional setiap 17 November oleh SMP Muhammadiyah 6 menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya generasi muda yang berkarakter, kreatif, dan berprestasi.
Lingkungan belajar yang ramah dan menyenangkan dinilai mampu mendorong siswa menghasilkan inovasi. Karena itu, peningkatan literasi menjadi faktor penting dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis para pelajar.
Pada peringatan Hari Pelajar Internasional tahun 2025, sejumlah siswa SMP Muhammadiyah 6 Surabaya mengekspresikan kepedulian mereka melalui tulisan reflektif. Salah satu di antaranya adalah M. Naufal Rosyid dari kelas 9 A, yang mengangkat tema tantangan pendidikan dalam artikelnya berjudul “Kunci Kemajuan yang Terkunci oleh Masalah Pendidikan.”
Dalam tulisannya, Naufal menggarisbawahi pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus globalisasi. Ia menilai bahwa kemajuan bangsa sangat bertumpu pada kualitas ilmu pengetahuan. Namun di Indonesia, menurutnya, masih banyak hambatan yang menghalangi semangat belajar, mulai dari fasilitas yang tidak merata, rendahnya literasi, hingga ketimpangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan literasi dan numerasi pelajar Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara maju.
Pakar pendidikan Dr. Rani Suryani menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya terkait sarana fisik, tetapi juga menyangkut kebijakan pendidikan yang belum sepenuhnya berpihak pada mutu. Dampak paling terasa dirasakan oleh pelajar di daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan fasilitas dan sulitnya akses internet.
“Banyak sekolah di pelosok belum siap menjalankan pembelajaran berbasis teknologi. Ilmu pengetahuan seharusnya bisa diraih siapa saja, bukan hanya mereka yang memiliki fasilitas lengkap,” ujarnya saat ditemui di Surabaya, Selasa (29/10/2025).
Ketimpangan tersebut semakin tampak sejak masa pandemi COVID-19 ketika pembelajaran daring menuntut penggunaan perangkat digital yang belum merata. Kondisi ini membuat sebagian siswa semakin sulit memperoleh pendidikan yang layak.
Dalam dua tahun terakhir, data menunjukkan bahwa pendidikan dasar di Indonesia masih menghadapi tantangan: 25 persen siswa mengalami hambatan belajar di kelas dan 17 persen mengaku tidak merasa aman di area tertentu di sekolah. Pemerintah, guru, dan masyarakat diharapkan dapat bekerja sama menciptakan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh anak bangsa.
Sementara itu, Salwa Zafira dari kelas 9 B menyoroti implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Ia menjelaskan bahwa pemerintah menetapkan TKA sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka Tahun Ajaran 2025–2026, yang mulai diberlakukan pada Juli 2025 di seluruh sekolah.
Kebijakan ini dirancang untuk penyempurnaan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, khususnya dalam menilai kemampuan analitis siswa. “TKA diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pokok dan termasuk dalam asesmen sumatif tiap semester,” tulis Salwa.
Pemerintah menyebut bahwa TKA mengisi kebutuhan penilaian nasional yang berstandar dan mampu memperkuat capaian akademik sebelum siswa melanjutkan ke perguruan tinggi. Nilai rapor tetap menjadi komponen utama SNBP, namun kini dilengkapi skor TKA yang diterapkan secara seragam.
Para kepala sekolah mendukung kebijakan tersebut, tetapi menilai perlunya pendampingan intensif bagi guru, termasuk penyediaan bank soal nasional dan modul pembelajaran yang sesuai standar.
Respons siswa beragam. Ada yang menganggap TKA membantu mereka mempersiapkan diri menghadapi soal jenjang perguruan tinggi, tetapi sebagian lainnya merasa beban belajar meningkat karena tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibanding asesmen sebelumnya. Seorang siswa SMP menilai kebijakan ini dapat membawa manfaat, tetapi hanya jika fasilitas pendukung diperhatikan dan masa adaptasi diberikan secara memadai.
Jika kesiapan sekolah tidak merata, kebijakan ini dikhawatirkan malah memperlebar jurang antara sekolah dengan sumber daya kuat dan sekolah yang masih tertinggal. Karena itu, keberhasilan pelaksanaannya bergantung pada sinergi antara pemerintah, sekolah, guru, dan siswa dalam menghadapi perubahan.
Di sisi lain, Syifaaurrohmah Putri Purnama dari kelas 7 C memilih mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu kualitas bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan kendaraan sering mogok atau brebet. Ia menyampaikan bahwa keresahan warga mengenai BBM perlu mendapat perhatian serius agar tidak menambah beban biaya transportasi.
Beberapa pengguna kendaraan mengaku motor mereka menjadi bermasalah setelah mengisi BBM, diduga akibat adanya campuran pada bahan bakar. Ia mengimbau masyarakat memanfaatkan posko pengaduan di sejumlah SPBU yang disediakan sebagai upaya menjaga kenyamanan dan keselamatan berkendara.







Total views : 92287
Your IP Address : 47.128.56.43







Tinggalkan Balasan